Travel Journal: Perjalanan ke Tanakita Sukabumi

Setelah berencana cukup lama, Minggu lalu akhirnya saya dan beberapa orang sahabat saya bertolak juga ke area glamping Tanakita di Cisaat, Sukabumi.

Kami memutuskan untuk pergi di hari Jumat dan kembali Sabtu sore, karena.. tiket keretanya dapatnya itu hehe. Kenapa pilih kereta? Walau naik mobil pasti lebih murah dan lebih flekibel, tapi tentu faktor kemacetan dan ketidakrelaan berlelah-lelahan nyetir di jalan menjadi pertimbangan utama.

Menurut saya pribadi sihhh, kereta adalah moda transportasi paling menyenangkan ke Sukabumi. Bebas macet, dan pemandangannya indahhh sekali.

Perjalanan dari Jakarta ke Sukabumi (Cisaat)

Sayangnya Kereta Pangrango yang menghubungkan Bogor (Paledang) dan Sukabumi hanya punya tiga jadwal: Jam 7.50 12.55, dan 18.30,  dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam. Semuanya, rata-rata sangat tepat waktu, jadi jangan harap bisa santai-santai kalau merasa agak telat.

Karena baru memesan seminggu sebelum kepergian, jadilah kami hanya kebagian tiket paling pagi, kelas Ekonomi.  Tapi untungnya, dengan sampai lebih pagi, berarti kami punya banyak waktu di Tanakita.

Tip #1: Karena cepat sekali habis, usahakan untuk pesan kereta ke Sukabumi minimal 2 minggu sebelumnya, supaya bisa dapat kereta yang Eksekutif. Kemarin kami hanya kebagian kereta Ekonomi. Harga tiket kelas Eksekutif adalah Rp. 60,000 sedangkan Ekonomi cukup 25,000 saja.

Karena meleset memperhitungkan waktu tempuh kereta Commuter Line Angke ke Bogor, alhasil sayapun baru sampai bogor tepat EMPAT menit sebelum waktu keberangkatan kereta Pangrango. Maka adegan Amazing Race pun tidak terelakkan. Sampai di Paledang, belum sempat saya menenangkan jantung saya yang mau copot karena kaget tiba-tiba harus dipompa setelah sekian lama leha-leha, kereta pun perlahan bergerak. Tak pernah saya senyaris itu ditinggal kereta.

Tip #2: Ini adalah poin penting bagi yang harus mengejar kereta ke Sukabumi, bahwa ada jarak sekitar 100 meter melewati kerumunan orang, tangga penyebrangan, dan juga jalan raya yang harus ditempuh. Sisakan sekitar 15 menit untuk jalan santai menyebrang. dan yang terpenting.. JANGAN TELAT!

Hari 1 

Untuk transportasi dari stasiun Cisaat ke area perkemahan, teman-teman Tanakita menyediakan opsi transportasi carteran angkot seharga Rp. 100,000 per mobil. Isinya ya, selumrahnya isi angkot deh hehe. Perjalanan memakan waktu sekitar 20 menit.

Sesampainya di Tanakita, kita langsung ditunjukkan tenda yang sudah disiapkan, dan dipersilakan bersantai di Rumamera, semacam common room tempat bersantai, makan, leha-leha, api unggun, sampai main karambol!

Rumamera adalah area terbaru di Tanakita, terletak agak berjauhan dari 4 area lain di bukit seberang yang berjarak sekitar hanya 400 meter. Ada 10 tenda yang disediakan, kami ber-6 memakai dua tenda, masing-masing dilengkapi alas tidur nyaman yang ditopang semacam pallet supaya tidak langsung menyentuh tanah, seprai, sleeping bag, bantal, satu lampu penerangan, hingga colokan listrik. Benar-benar glamping!

Pemandangan Tanakita Sukabumi

Rumah Merah

 

Area bersantai dan api unggun

Sekitar jam 12 siang, kami diperkenalkan ke Kang Edo, pendamping kami selama berada Tanakita, kepada dialah kami akan merengek, minta makan hingga menanyakan hal-hal nggak penting. Mungkin untuk menyumpal mulut kami yang walau cuma beenam tapi kayak ber-30, Kang Dadang, salah satu penanggung jawab, memberitahu bahwa makan siang tengah disiapkan. Sembari menunggu, kudapan siang dalam bentuk pisang goreng panas datang menghampiri, ditemani kopi dan teh yang bisa dibuat sendiri sebanyak dan sesering yang kita mau. Tak lama berselang disajikan makan siang dengan menu sbb: nasi, lalapan, tumis sayuran, tahu goreng, ikan asin, empal goreng, sayur asem, dua jenis sambal, merah dan hijau, serta kerupuk.

Setelah berhasil menahan diri untuk tidak nambah ketigakalinya puas mengisi perut, sayapun mulai berkeliling lihat lokasi. Yang pertama-tama kena inspeksi tentu: kamar mandi!! Alangkah terharunya ketika saya menemukan bahwa bukan hanya SEMUA kamar mandi di sini bersih pake banget, tapi ada air panas dengan tekanan air yang aduhai.

Ini foto @febrynech yang berkunjung ke Tanakita di waktu yang berbeda. Saya tidak sempat coba kamar mandi ini, tapi kurang lebih sama mewahnya.

Trekking ke Curug Sawer

Pukul 2 siang, kami diajak Kang Edo trekking ke Curug Sawer, air terjun yang masih berada di daerah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Satu hal yang saya rasakan di Tanakita, tidak sekalipun saya pernah merasa sendiri, atau takut nyasar di sini. Selain area semua apik terjaga, selalu ada kru Tanakita yang sedia membantu.

Jarak dari area perkemahan Tanakita ke Curug sawer hanya sekitar 1.5 km dan sudah diberi jalan setapak, TAPI karena lumayan menanjak dan berbatu, perjalanan bisa jadi ekstra melelahkan. Mengenakan sepatu yang tahan banting amat sangat disarankan kalau tidak mau terpeleset dan lebih percaya diri melangkah (seperti kata iklan Bata jaman kuda) Tapi setibanya di Curug Sawer dengkul yang loyo langsung terbayar dengan pemandangan air terjun deras berderai derai.

Di depannya, ada semacam jembatan tempat pengunjung bisa berfoto atau bersantai, tapi dilarang untuk terjun ke kolam air terjun. Kalau mau celup-celup kaki sebelum bertolak pulang, bisa di area yang agak lebih jauh dari titik jatuh air terjun.

Sepulangnya dari air terjun, kudapan panas ngepul-ngepul dalam bentuk bakwan jagung sudah menanti. Benar-benar surga dunia sembari menikmati pemandangan hijau yang tak ada habisnya. Setelah itu, saya tak sabar untuk menjajal kamar mandi super nyaman yang disediakan tanakita.

‘Hiburan Malam’

Malamnya, selain disuguhi makan malam yang tak kalah mewah baik untuk omnivor (seperti saya) maupun bagi yang pescatarian seperti teman saya; mulai dari ikan gurame goreng, tumis sayuran, ayam bakar, sup, dan pastinya lalap dan sambal yang tak pernah absen. Habis makan malam, kami disuguhi oleh hiburan live music akustik dari teman-teman Tanakita yang luar biasa serba bisa.

Masih jepretan @febrynech dengan henpon Motorolanya yang lebih OK

Yang masih lapar, bisa order indomi sepuas hati, semuanya sudah termasuk dari paket tenda. Kalau jiwa petualang masih berkobar, pemandumu akan menawarkan untuk berjalan santai di sekitar area tenda. Malam itu, kami diajak untuk jalan singkat ke area tenda yang satu lagi, tempat kami (lagi-lagi) disuguhi minuman hangat.  Benar-benar surga dunia!

Tenda Istimewa 

Setiap tenda bisa dihuni hingga 3 orang. dan dilengkapi sleeping bag, bantal, colokan dan lampu yang lumayan terang benderang (?). Ini benar-benar tenda kategori dunia pertama banget deh. Tapi biar kata peralatan bobo lengkap, bukan berarti kita bisa cuma pasang badan sebelum tidur. Wajib hukumnya melapisi tubuh tropis kita dengan jaket atau berlembar-lembar kain ekstra kalau tidak mau menggigil waktu tidur, karena suhu di Sukabumi bisa mencapai sekitar 12 derajat celcius. (kalau dipikir-pikir, ini hangatnya luar biasa sih kalau dibandingkan dengan Nebraska di bulan November -_-). Satu-satunya tantangan yang harus dilewati adalah kalau kebelet pipis, harus jalan ke rumah merah yang berjarak..20 langkah saja. bihihihik.

 

Photo by @febrynech
Photo by @febrynech

Hari 2

River Tubing di Sungai Cigunung

Keesokan paginya, kabut romantis sudah menunggu. Begitu juga adonan pancake plus topping, bubur kacang hijau, plus nasi kuning dan empal daging! BAM! Gembul gak tuh? Di sini lah waktunya anak-anak yang suka masak bisa diajak berkreasi dengan wajan pancake di atas arang tradisional. Sedikit menantang, tapi seru bukan main.

Setelah selesai menyumpal mulut, kami diajak Kang Edo ke lokasi tubing yang berjarak sekitar 1 kilo dari situs perkemahan. Nah di sinilah menurut saya petualangan paling seru selama 2 hari di Tanakita. Perlu diingat, untuk menikmati kegiatan memacu adrenalin ini (halah) ada tambahan biaya sebesar Rp. 150,000 yang menurut saya sangat sangat sangat SETIMPAL mengingat betapa sigapnya para aa aa menjaga kami yang agak kurang koordinasi motoriknya ini.

Masing-masing peserta akan dibekali alat pengaman helm, pelampung, dan pengaman lutut dan siku yang wajib digunakan. Jarak sungai yang kita susuri adalah sekitar 1.8 km, dilewati selama kurang lebih 40 menit. Selama itu pula, akan selalu ada kru dari Tanakita yang menjaga, sehingga aktivitas ini sangat aman, untuk anak-anak sekalipun. Kala itu, walaupun deras air sungai hanya setinggi pinggang orang dewasa. Jika air sungai terlalu tinggi atau terlalu deras, Tanakita kemungkinan besar tidak akan tawarkan kegiatan tubing karena terlalu berbahaya. Rasanya? SERUU luar biasa. Dua temen saya yang pernah tubing di pindul bilang ini jauh lebih menyenangkan, dan airnya lebih dingin pula. hehe

Kelar tubing, kami diistirahatkan di tepian sungai yang cantik sekali, lengkap dengan teh hangat dan pisang goreng yang aduhay berkali kali lipat nikmatnya kalau disantap ketika sedang basah kuyub. Lokasi ini ternyata pernah dijadikan situs kemah Tanakita, tetapi sedang diistirahatkan karena fasilitasnya perlu diperbarui.

Dari titik selesai tubing, kami dijemput menggunakan angkot untuk kembali ke Tanakita, bebersih, lalu ke kegiatan favorit saya: makan siaangg! Menunya pun tak kalah bikin ngiler: ikan mas goreng, lalapan, sambal tomat kecombrang, sambal goreng, tahu tempe, dan sayur asem. Wuih. Saat ini pula kami gantian mandi di kamar mandi bersama di rumah utama yang walau tidak se-mentereng di rumah mera, namun sama bersihnya.

Perjalanan ke stasiun cisaat kembali kami tempuh menggunakan angkot carteran. Hanya ada satu pilihan jadwal untuk perjalanan kembali ke Bogor, yaitu pukul 4 sore, yang tidak sulit dikejar mengingat pendeknya jarak dari bumi perkemahan ke stasiun Cisaat. Setelah sampai di Bogor (2 jam kemudian) kita tinggal naik kereta Commuter Line ke arah Jakarta.

Teman seperjalanan saya, Annisa, sudah mencoba beberapa jenis glamping di sekitaran Jabodetabek dan bilang bahwa tidak ada yang selevel dengan Tanakita. Baik dari segi kualitas fasilitas, servis, hingga ragam aktivitas. Saya pasti akan balik lagi ke Tanakita. Kesimpulannya, kami pasti akan kembali lagi!

 

 

 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *