Green Card Journey: The Reason We Left

Green Card Journey: The Reason We Left

Mulai dari mana ya.

Mungkin bisa saya mulai dari alasan kenapa saya tiba-tiba memutuskan pindah ke AS dan apply green card, setelah sebelumnya saya dan suami sudah bulat akan menetap di Indonesia. Bahkan ketika pertama membuat tourist visa (Visa B1/B2), saya dengan PD-nya bilang ke mbak-mbak konsuler AS bahwa “There’s no way I’m moving to the united states in the near future. My life is right here.”. Sehingga paspor saya pun sukses distempel visa turis.

Hm..

Sampai akhirnya kami goyah dan kalah juga oleh Jakarta. Ya saya tahu, tinggal di ibukota nggak boleh manja, tapi satu tahun terakhir kami ada di Jakarta sungguh berat. Kami akhirnya kalah oleh kemacetan yang memburuk drastis, bahkan dalam hitungan 2-3 tahun. Kalah oleh memburuknya kondisi kesehatan kami berdua yang kami simpulkan adalah akibat dari tinggal di tengah jantung polusi (kami tinggal di rumah orang tua saya yang berada tak jauh dari kawasan Blok M, pusat transportasi umum kota). Tapi yang paling menyakitkan, orang-orang disekeliling kami yang agaknya kurang paham (atau tidak mau mengakui) dengan krisis udara Jakarta.

Sebagai catatan, dilema ini kami hadapi sekitar tahun 2016-2017. Lama sebelum woro-woro petisi tuntut Jokowi dan heboh peringkat Jakarta yang melesat ke tingkat pertama sebagai kota dengan udara terburuk di dunia. Saya ingat menyimpan screen shot peringkat AQI Jakarta yang saat itu ada di peringkat 3 atau 4 terburuk, dan membagikannya ke beberapa teman dan keluarga. Hanya beberapa orang yang ikutan terkejut atau bersimpati. Sisanya, tidak ada respon, mungkin tidak begitu percaya.

 

 

Foto langit Jakarta 1 hari sebelum dan sesudah hari Idul Fitri 2017

Tapi angka AQI yang selalu pol di ambang maksimal, kami bisa rasakan betul setiap hari. Apalagi suami saya yang pernafasannya super sensitif. (Dia bisa endus kalau ada yang merokok di rumah sebelah, berjarak 200 meter) Setiap malam, selalu ada saja yang membakar sampah. Kalau nggak dari tetangga yang satu, ya yang di ujung lain. Beberapa kali kami tegur baik-baik, tidak mempan, lalu kami siram paksa pakai selang, tidak mempan juga, sampai akhirnya kami lapor pakai Qlue (saat itu masih era BTP), akhirnya dia nurut. Tetangga A nurut, sumber asap lalu berganti ke tetangga B! Nggak ngerti kenapa ya kita senang banget bakar sampah malam-malam, bikin orang susah napas malam-malam? Terlebih lagi, kala itu adalah waktu MRT baru melewati tahap awal pembangunan, sehingga kami dikelilingi oleh lokasi konstruksi. Saya tidak mau menuduh (karena observasi saya cuma dari jauh) tapi beberapa kali bau asap menyengat seperti bau karet saya duga berasal dari lokasi pembangunan.

Entah berapa kali suami saya benar-benar tercekat tidak bisa napas, walaupun sudah coba segala macam masker dan air purifier. Betapa merasa bersalahnya saya bawa dia ke Jakarta dan merasa tidak berdayanya kami berdua.

Ya, tentu masih banyak alasan kenapa kami memutuskan untuk pergi. Meninggalkan orang tua saya yang pasti menggelar drama telenovela ketika saya menyampaikan niat berangkat ke negara Paman Donald.

Tapi ya, dua di atas itu yang akhirnya membuat suami saya hampir histeris ngomong ke saya kalau dia sudah nggak sanggup. Bahwa otaknya sih mau tinggal di sini, tapi badannya sudah nggak sanggup lagi.

Tentu kami sempat memikirkan solusi, bagaimana kalau pindah ke kota lain? Pertama, buat kami pindah ke kota lain di Indonesia, sama besar komitmennya dengan ‘pulang’ ke Amerika. Karena kota baru (walaupun di Indonesia juga) merupakan kota asing, di mana kami harus mulai dari nol. Kedua, suami saya orang Asing, yang semakin hari semakin diperketat keberadaanya di negara ini, walaupun ia sudah menikah dengan WNI, dan memegang KITAP jangka panjang. Tidak semudah itu, Nobita.

Maka kami pun menutup lembar hidup kami yang manis-manis-pahit-sepat di Jakarta, dan memulai lembaran baru hidup di negara (yang katanya) adalah negara dengan sejuta harapan.

Langkah pertama, jalan terjal berliku menggapai.. Green Card. (JENG JEENGGG)

Scared The Lion King GIF - Find & Share on GIPHY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: