Travel Journal: Peoria, Illinois Day 1

Travel Journal: Peoria, Illinois Day 1

Hari ini kami memulai perjalanan yang benar-benar baru. Baik secara literal maupun kiasan. Setelah tinggal di Omaha, Nebraska selama kurang lebih 2 tahun, saya dan suami akan memulai petualangan hidup nomaden alias berpindah-pindah.

Haduh gimana itu ceritanya? 

Singkat kata, suami saya dapat tawaran kerja yang sangat sulit ditolak, dengan persyaratan: selalu berada di kota (dan negara bagian) yang berbeda setiap 2 atau 3 bulan sekali, bahkan 1 bulan atau 2 minggu sekali. Tergantung situasi. 

Destinasi pertama kami adalah sebuah kota kecil di Ohio bernama Chillicothe. Karena pekerjaan suami saya membutuhkan mobilisasi ke situs proyeknya, maka perjalanan mutlak dilakukan via darat. Total, lama perjalanan dari Omaha, Nebraska memakan waktu sekitar 12 jam. 

Untuk alasan keamanan, suami saya hanya diperbolehkan berkendara maksimal 500 mil per hari. Ini berarti, setelah nyetir sekitar 7 sampai 8 jam dalam sehari, kita harus cari kota terdekat untuk bermalam. Untungnya, biaya akomodasi dan konsumsi ditanggung, dan waktu perjalanan dihitung jam kerja. 

Kota yang kami pilih untuk pemberhentian pertama adalah :

Traffic Sign 2

Preoria, Illinois

Kota ini kami pilih karena: Pertama, karena dia berada kurang lebih tepat di tengah-tengah perjalanan kami ke tujuan. Kedua, karena kota ini (paling tidak di Google Maps) terlihat cukup besar, dan asumsinya, punya lebih banyak pilihan penginapan terjangkau yang berkualitas. (Semakin murah penginapan, semakin banyak sisa tunjangannya hehe). 

Pas kita sampai, infrastruktur kota ini terlihat terjaga, tapi entah kenapa tidak terlihat ramai. Usut punya usut, ternyata kota ini sempat menjadi headquarter utama salah satu perusahaan terbesar dalam bidang alat konstruksi, Caterpillar.  Tapi sayangnya, pada tahun 2017 perusahan ini memutuskan untuk memindahkan pusat komandonya ke Deerfield, kawasan satelit dari Chicago, masih di negara bagian Illinois. 

Museum peoria

 Yang tertinggal adalah Caterpillar Visitor Center & Riverfront Museum yang cukup besar dan mentereng. Sayang, karena kami tiba cukup larut, museum ini sudah keburu tutup.  Akhirnya, kamipun hanya berjalan-jalan di tepi sungat yang tertata rapi, tapi sayang sepi sekali.

Terparkir di dermaga ada sebuah kapal uap jadul berwarna merah putih. Turis yang berminat, bisa ikut menyusuri sungai di sore hari, sambil ngemil santai. Tapi karena COVID jadwal berlayar kapal ini dipangkas jadi cuma 2 kali seminggu. Dan tentu saat saya datang, bukan salah satunya.

Kami sempat berjalan-jalan di tengah kota (downtown) tapi lama kelamaan, kok rasanya aneh, karena tidak ada orang lain selain kami. Yang ada hanya..gelandangan. Er… Let me rephrase that: there are only homeless people on the streets. Selebihnya, semua orang berada dalam mobil. 

Bayangkan jalan-jalan di… SCBD, tapi engga ada pejalan kaki sama sekali. Hanya gelandangan, yang setengahnya jelas-jelas korban narkoba. (Paling tidak pemakai meth, yang gampang sekali diidentifikasikan). 

Peoria 2
Gambar Abraham Lincoln yang menandakan lokasi Presiden ke-16 AS tersebut melaksanakan pidato anti-perbudakannya yang termasyhur, sebelum ia mencalonkan diri menjadi Presiden

Agak sedih sih, mengingat kota ini cukup sarat dengan sejarah. Seperti fakta bahwa pada tahun 1854, di sinilah tempat Abraham Lincoln berpidato menentang undang-undang pro-perbudakan. Pidato ini disebut-sebut sebagai langkah signifikan dalam karir politiknya, hingga akhirnya menjadi Presiden AS.

Tadinya kami mau coba restoran lokal, tapi karena sepertinya enggak ada yang menggiurkan, maka kami memilih untuk cari aman dan makan salah satu gerai fast food yang selalu saya pengen coba: Steak ‘n Shake. Kayaknya sih, ini gerai yang cukup spesifik kawasan Midwest, tapi entah kenapa enggak pernah ada di Omaha. 

Setelah itu, kami kembali ke motel dan mencoba belajar packing dan unpacking yang efektif. ^^’

Oiya, hotel yang kami pilih (secara mendadak tentunya) adalah Super8 di tengah kota. Sempat deg-degan karena motel ini lumayan terkenal motel yang.. gitu deh. Enggak banget pokoknya. Tapi setelah lihat review dan foto, kamipun memberanikan diri. Selain tentu karena harganya cocok.

Bisa dilihat di foto (maaf berantakan 😆) kamarnya cukup bersih, desainnya cukup modern, dilengkapi dengan kulkas, microwave, dan mesin pembuat kopi. (Ternyata dua yang terakhir ini cukup standar di Amerika). Jangan kagok juga kalau di setiap hotel, terutama yang bintang 4 ke bawah, akan ada MESIN ES di lobinya. Beneran kayak di film-film. Entah ada apa dengan orang Amerika dan obsesi es batunya.

Oh ya, favorit saya, walaupun tarafnya hanya 1 level di atas bates motel, hotel ini masih menyajikan sarapan pagi hangat! Perlu diingat juga bahwa COVID masih banter melanda, yang menyebabkan para hotel chain meninggalkan opsi sarapan komunal.

Sarapannya terdiri dari: Apel, oatmeal instan, dan self-service WAFFEL MAKER station! Ini paling penting! Bisa makan waffle sepuasnya. Ga ada fotonya karena keburu heboh sendiri bikin waffle!

Super 8 room
Kamar Super 8, etelah diacak-acak.

TW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: